Home >> My Life >> My Experience >> Belajar Menjadi Petani Yang Sesungguhnya Ternyata Susah susah gampang
Panen Padi Di Desa Gebangangkrik

Belajar Menjadi Petani Yang Sesungguhnya Ternyata Susah susah gampang

Pengalaman sangat berharga di panen padi 2016 buat diri saya. Sejak lulus smp tahun 2001, saya sudah tidak pernah terjun ke sawah. Orang tua saya melarang terutama bapak, karena saya harus fokus mencari ilmu dan sudah dididik menjadi petani dan menggembala sapi selama 2 tahun supaya merasakan perjuangan seorang petani mencari uang. Untuk bisa sekolah SMA di Jombang harus merawat sapi dan jadi petani selama 2 tahun. Setelah saat itulah, saya tidak pernah kembali terjun ke sawah.

Belajar Jadi Petani
Belajar Jadi Petani

Gemerlap kota membuat saya lupa kondisi pedesaan, rasa nyaman dalam bekerja membuat terlena kalau orang desa mencari uang untuk bertahan hidup dengan mengeluarkan keringat bercucuran. Tapi yang membuatku salut kepada petani, ketenangan hati dan rasa sabar menghadapi ujian dalam hidupnya.

Saat yang tepat, ibu saya panen padi dan setelah panen padi bercocok tanam lagi alias Gadu pari. Sehingga melihat proses menanam padi mulai dari kecil dan proses panen padi juga. Terik matahari yang begitu panas menyelimuti, tidak menjadi halangan bagi setiap petani untuk bercocok tanam ataupun panen hasil pertanian yang ada.

Di awal saya mencoba membantu panen padi alias ngarit, saya kira mudah tertanya butuh keahlian khusus untuk mengambil padi. Tanah yang becek dan daun daun padi yang menempel di kulit membuat gatal hampir saja membuat putus asa. Potong padi, mengikat padi dan menaruhnya merupakan kegiatan yang berulang ulang. Tangan sudah mulai lelah dan capek, namun padi masih banyak dan matahari semakin di atas kepala membuat suasana semakin panas. Pengalaman pertama inilah langsung saya sangat bersyukur bekerja di perkotaan begitu nyaman dan hasilnya juga lebih besar, namun dengan kenyamanan tersebut saya sering terhinggapi rasa malas. Di desa baru panen padi saja sudah panas, tangan capek, badan lelah dan masih banyak hal lain namun masih tetap bersemangat dalam mencari rizki dari pertanian. Ini merupakan tamparan keras pertama buat diri saya.

Istirahat Siang persiapan Makan
Istirahat Siang persiapan Makan

Padi yang sudah dipanen karena belum bisa untuk di giling akhirnya harus bertahan di sawah. Yang membuat ku kaget, ternyata padi yang ada di sawah harus dijaga biar tidak di curi orang. Dulu waktu kecil sering jaga diesel di sungai itupun tidak tidur di sungai. Ini pengalaman yang sangat berharga. Jaga padi sampai pagi dengan udara yang sangat dingin dan gelap gulita. Alhamdulillah teman teman PKL ikut tidur bareng disawah. 🙂

Jaga Padi Di Tengah Sawah
Jaga Padi Di Tengah Sawah

Masih ada mrontok alias menggiling tanaman padi agar menjadi padi yang siap untuk di masukan karung. Tenaga yang masih tersisa harus terkuras kembali untuk hal tersebut. Panas, lapar dan haus hinggap membuat tubuh semakin tak berdaya, namun jika saya tidak melanjutkan pekerjaan tersebut ya tidak selesai. Dan seandainya saya mata pencaharian hanya dari pertanian, saya berhenti bekerja, saya tidak dapat makan besoknya.

Alhamdulillah proses mrontok alias menggiling tanaman padi di bantu anak PKL yang semangat. Tidak hanya mencari ilmu komputer baik multimedia maupun TKJ Smk budi utomo, namun terjun bersama merasakan bagaimana seorang petani berjuang untuk menghasilkan padi yang berkualitas. Baru kali ini saya bersama anak pkl bersama sama untuk bekerja dan belajar di luar pelajaran sekolah. Kenangan yang tidak terlupakan dan menjadikan sejarah tersendiri untuk anak SMK Budi Utomo.

Anak PKL Siap Untuk Mrontok Padi
Anak PKL Siap Untuk Mrontok Padi

Davi, Septian, Muflih, Reza, Aldo Jabbar, Fatur, Ricky, Kiki, Sidik, termasuk adiku sigit ikut membantu di panen yang terakhir. Dengan penjaga kantor si Danang. Rasa capek terlintas dan rasa gatal terobati dengan mandi di sungai bareng bareng. Biasanya mandi di kolam renang, namun sekarang di kolam renang rakyat alias kali. 🙂

Di saat padi sudah di dalam karung, ternyata tidak boleh terlalu lama. Harus di jemur minimal 2-3 hari supaya padi menjadi kering dan bisa dijadikan beras. Lagi lagi tenaga harus dikeluarkan untuk menjemur padi, setelah kering harus di masukan kembali dalam karung.

Padi Yang Siap di Dawut
Padi Yang Siap di Dawut
Padi Yang Siap di Dawut
Padi Yang Siap di Dawut

Di saat yang bersamaan, sawah yang sudah selesai di panen agar siap untuk dipanen harus di bajak kembali gunakan traktor. Alhamdulillah sebelumnya sudah hujan sehingga tidak perlu mengairi sawah. Sawah di bajak, padi yang masih umur 20 hari siap untuk di dawut atau diambil dengan tangan. Wowww.. rasanya tangan panas dan sakit saat ambil padi di sawah. Saya kira mudah ternyata sangat sulit sekali selain ada tekniknya, harus gunakan tenaga yang berlebih untuk bisa mencabutnya.

Semua selesai di cabut, harus di tanam lagi alias di tandur. Ini spesialis khusus ibu ibu dan biasanya laki laki ga bisa. Bayangkan merunduk terus menerus untuk menaman padi, betapa capeknya.

Proses menaman padi yang cukup lama mulai menebar benih, 20 hari siap di cabut (dawut), di tanam kembali tapi sebelumnya tanah harus di bajak, di kasih pupuk dan di beri pengairan. Menunggu 3 bulan baru bisa panen itupun kalau berhasil dan sukses padi yang di tanam. Proses panen juga begitu melelahkan dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi, harga padi yang turun drastis saat panen tiba. Semua itu dijalani petani untuk bisa bertahan hidup dan memperbaiki perekonomian rumah tangga.

Semua hal tersebut, membuat saya semakin bersyukur atas nikmat Allah yang selama ini diberikan kepada saya. Walaupun saya hanya sebentar merasakan menjadi petani dadakan, membuat semangat dan jiwa Ali Mustika Sari yang dulunya lemah kembali terpupuk kembali untuk lebih semangat dan lebih profesional dalam bekerja.

Dan bagi teman teman yang ikut membaca tulisan saya ini, semoga bisa menjadi inspirasi dan menjadi semangat dalam berjuang untuk mencari rizki dari Allah dan jangan mudah putus asa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *